Jenis kelamin laki-laki. Tempat lahirnya dulu dekat ibunya. Tanggal lahirnya 20 tahunan. Namanya mirip nama bulan salah satu dari dua belas bulan penanggalan, tempat cobaan, di ujung neraka paling atas, panas. Selebihnya namanya adalah nama pendek yang bergelar “bukan nama sebenarnya”, si “anu” bukan nama sebenarnya.
Repot punya nama model begini, si “anu” jadi hampir gila, terjebak antara dosa, nikmat, tuhan, pernikahan sesama jenisnya dengan pria bule pujaan, cinta, keluarga, asing terasingkan, ingin ganti nama, nama adalah doa orang tua, mengamuk sendiri dalam pikirannya “Alangkah tega bapak emak ku mendoakan aku jadi manusia pendosa”. Lalu jika nama bisa membuat seseorang menjadi hampir gila,”Apalah artinya sebuah nama?” Pasti orang gila yang melontar pepatah itu kan?
Nama dia dan namaku jelas berbeda, tapi meski begitu aku manusia dan aku juga pendosa. Kasihan dia yang punya nama. Bingung ingin kawin dengan pacar, sampai takut dosa, sampai takut beragama, sampai takut punya nama. Setiap ingat nama, ingat dosa. Coba di ingat-ingat, kalau tak ada tuhan apakah ada yang disebut dosa? Kalau tak ada tuhan, apakah ada agama? Karena ada tuhan bukankah ada cinta? Cintai siapa yang kau cintai, tuhanmu atau pria bule mu itu. Bule itu beragama juga kan?
Pernikahan akan menunjukkan agamamu, tapi dengan rencana pernikahanmu ini, sebenarnya aku ingin bertanya, apakah orang-orang macam kita punya agama?
Kenapa repot-repot beragama, bertuhan saja sudah cukup. Pendosalah kita. Kita ini manusia memang pendosa.
***
Jenis kelamin perempuan. Tempat lahirnya dulu dari ibunya. Tanggal lahirnya 30 tahunan. Namanya cantik penuh kelembutan, Asih, tapi dia ingin ganti nama, jadi Joko. Tiap hari kebingungan dengan jati diri. Berharap amnesia, atau mati saja sekalian. Tapi dia cuma anak tunggal, yang ingin menikah menyambung keturunan. Tapi Joko ini mau menikah dengan Mona pacarnya. Punya anak nanti dari sperma kuda. Begitu katanya.
Kalau ingat nama, ingatlah sama bapak dan emak. Mereka yang sayang sama Asih. Asih itu sama sekali jijik dengan seragam sekolah, rok merah itu. Dari kelas satu SD sampai SMA, sampai lulus pakai celana. Dari kecil Asih memang disayang-sayang, sampai rok pun diizinkan ditukar jadi celana.
Joko, walaupun dia kekar, tetap saja dadanya ada buahnya, buah dada. Dalam dadanya juga masih ada kelembutan, dia takut dengan namanya, takut bertuhan, takut beragama, takut berdosa.
Joko Asih, Asih Joko. Yang punya nama kadang ingat dengan keluarganya, nangis meraung-raung meremasi buah dadanya. “Aku takut aku ini anak durhaka.”
Cuma Mona yang bisa menghibur, tambah dalamlah mereka berdua. Saling mencintai satu sama lain. Memandang cinta ingat Mona, ingat bapak emak ya harusnya Joko menikah dengan mas Joko.
“Aku alangkah berdosa, punya orang tua sudah sepuh. Rumahku besar, aku anak tunggal, badan kekar, namaku Joko, alangkah sepi rumah ini nanti, kalau orang tuaku mati.”
Lah terus, pertanyaannya gimana kalau mbak Joko yang mati lebih dulu?
***
Di antara dua nama, nama kita bertiga sudah ada di jurang neraka. Kita manusia dan semua pendosa. Sekali mati nanti, menunggu, dan terjungkal kedalamnya. Kita bertiga tak pernah sombong kepada Tuhan bukan? Hanya kadang kita takut, dan malu. Meski pada akhirnya, dengan semua penglihatan Tuhan yang Maha Melihat, tetap saja kita melakukan dosa, kan?
***
Note:
Untuk Rn dan Ma, dua nama. Entah kalian berdua, entah aku saja. Ketiganya jauh dari entahlah, kita semua manusia selalu punya Tuhan, beragama, berdoa dan berdosa.