»

Punah

This is my irresistible desire, and something I desire irresistibly... Describing Life
In a long journey to find what life is...
What love is...
"I've been fell in love to my life, something that only me could live with . Since everybody lives their own life. Sucks or beautiful, we decide"

Home Archive RSS Ask

sirwhindleton:

ellesuicide:

orangemuses:

bloody-h-e-l-l:

Post Deathly Hallows.  [ credit: x / x ]

WELL WOW

THIS IS FOR SIRWHINDELTON YOU WANTED TO KNOW THEIR JOB NOW

Yooooooooooo!

(via notemily)

Bau Perawan

Bukan baru perawan

Bukan perawan baru

Bukan bau perawan

Bukan perawan bau

Baru kehilangan [er]

Itu Bau

Perawan kehilangan [er]

Itu Peawan

Peawan itu tidak baru

Peawan itu Bau

Peawan itu bau tanah

Kakek tua, ompong giginya

Waktu minta kawin lagi

“Nah, ini bau peawan”

(Jambi 2013) F.A.I

Kiss, goodnight
Wave, the twilight
Dawn, won’t come
Morning, gruesome

Di Antara Dua Nama

Jenis kelamin laki-laki. Tempat lahirnya dulu dekat ibunya. Tanggal lahirnya 20 tahunan. Namanya mirip nama bulan salah satu dari dua belas bulan penanggalan, tempat cobaan, di ujung neraka paling atas, panas. Selebihnya namanya adalah nama pendek yang bergelar “bukan nama sebenarnya”, si “anu” bukan nama sebenarnya.

Repot punya nama model begini, si “anu” jadi hampir gila, terjebak antara dosa, nikmat, tuhan, pernikahan sesama jenisnya dengan pria bule pujaan, cinta, keluarga, asing terasingkan, ingin ganti nama, nama adalah doa orang tua, mengamuk sendiri dalam pikirannya “Alangkah tega bapak emak ku mendoakan aku jadi manusia pendosa”. Lalu jika nama bisa membuat seseorang menjadi hampir gila,”Apalah artinya sebuah nama?” Pasti orang gila yang melontar pepatah itu kan?

Nama dia dan namaku jelas berbeda, tapi meski begitu aku manusia dan aku juga pendosa. Kasihan dia yang punya nama.  Bingung ingin kawin dengan pacar, sampai takut dosa, sampai takut beragama, sampai takut punya nama. Setiap ingat nama, ingat dosa. Coba di ingat-ingat, kalau tak ada tuhan apakah ada yang disebut dosa? Kalau tak ada tuhan, apakah ada agama? Karena ada tuhan bukankah ada cinta? Cintai siapa yang kau cintai, tuhanmu atau pria bule mu itu. Bule itu beragama juga kan?

Pernikahan akan menunjukkan agamamu, tapi dengan rencana pernikahanmu ini, sebenarnya aku ingin bertanya, apakah orang-orang macam kita punya agama?

Kenapa repot-repot beragama, bertuhan saja sudah cukup. Pendosalah kita. Kita ini manusia memang pendosa.

 

***

 

Jenis kelamin perempuan. Tempat lahirnya dulu dari ibunya. Tanggal lahirnya 30 tahunan. Namanya cantik penuh kelembutan, Asih, tapi dia ingin ganti nama, jadi Joko. Tiap hari kebingungan dengan jati diri. Berharap amnesia, atau mati saja sekalian. Tapi dia cuma anak tunggal, yang ingin menikah menyambung keturunan. Tapi Joko ini mau menikah dengan Mona pacarnya. Punya anak nanti dari sperma kuda. Begitu katanya.

Kalau ingat nama, ingatlah sama bapak dan emak. Mereka yang sayang sama Asih. Asih itu sama sekali jijik dengan seragam sekolah, rok merah itu. Dari kelas satu SD sampai SMA, sampai lulus pakai celana. Dari kecil Asih memang disayang-sayang, sampai rok pun diizinkan ditukar jadi celana.

Joko, walaupun dia kekar, tetap saja dadanya ada buahnya, buah dada. Dalam dadanya juga masih ada kelembutan, dia takut dengan namanya, takut bertuhan, takut beragama, takut berdosa.

Joko Asih, Asih Joko. Yang punya nama kadang ingat dengan keluarganya, nangis meraung-raung meremasi buah dadanya. “Aku takut aku ini anak durhaka.”

Cuma Mona yang bisa menghibur, tambah dalamlah mereka berdua. Saling mencintai satu sama lain. Memandang cinta ingat Mona, ingat bapak emak ya harusnya Joko menikah dengan mas Joko.

“Aku alangkah berdosa, punya orang tua sudah sepuh. Rumahku besar, aku anak tunggal, badan kekar, namaku Joko, alangkah sepi rumah ini nanti, kalau orang tuaku mati.”

Lah terus, pertanyaannya gimana kalau mbak Joko yang mati lebih dulu?

 

***

 

Di antara dua nama, nama kita bertiga sudah ada di jurang neraka. Kita manusia dan semua pendosa. Sekali mati nanti, menunggu, dan terjungkal kedalamnya. Kita bertiga tak pernah sombong kepada Tuhan bukan? Hanya kadang kita takut, dan malu. Meski pada akhirnya, dengan semua penglihatan Tuhan yang Maha Melihat, tetap saja kita melakukan dosa, kan?

 

 

***

Note:

Untuk Rn dan Ma, dua nama. Entah kalian berdua, entah aku saja. Ketiganya jauh dari entahlah, kita semua manusia selalu punya Tuhan, beragama, berdoa dan berdosa.

Di Dalam Kertas

Di atas kertas atau di kulitnya atau di bawahnya

Atau dihisapnya atau diserap atau ditelannya

Di dalam kertas

Aku pernah menuliskan ribuan kata “kita”

Yang dari satu ke satu waktu
Yang karena abaiku

Akhirnya ribuan “kita” itu mengeras
Membuat “kita” sepertinya memudar
Kembali menjadi aku dan kamu”

It makes me what

It makes me what, if my favorite color is blue
It makes me what, if I love to cook
It makes me what, if I love poetry
It makes me what, if I hate party
It makes me what, if I don’t give a damn
To anything that you want me to know
something you really proud of and you
turn out so bitchy by judging me as
an ignorant
And fuck! It makes me what if I call this as a poetry?

One-Piece Slippers by Gaspard Tiné-Berès

(via unicorn-meat-is-too-mainstream)

Karam

Ini tentang cerita yang kita rangkai berdua
Tentang temali yang menggenggam biduk sandar
Disana ia setia membantu tuan kelana, berkeras hati
Tak pernah sekali waktu ia mengeluh kepada camar

Duhai

Malang siang diterpa gelombang
Malam apalagi
Tuannya pergi mencari kekasih di pondok pelacuran
Tapi baginya sudah cukup dengan pelita redup
Ia bercinta dengan kasihnya
Biduk sandar di dermaga
Kadang jika nasib baik bersamanya
Bulan temaram mempermainkan mereka
Riuh sekali

Suatu waktu ditepi surut
Dan malam hilang cahaya
Buatnya sudah cukup habis waktu
Dia lepaskan belahan jiwa
Seketika terombang-ambing
Sang biduk kemudian karam
Bersama cinta yang dikekalkannya
Sementara si temali sesali diri tidak berguna

Setengah Windu Kita, Ay

Ingatkah engkau pada waktu-waktu yang lalu

Sungguh kuingat-ingat kita berdua sedang bersama bersisian

Saling memadu kasih lagi dengan jejak-jejak yang  tak terlalu berjarak

Kurasakan ada wangi ke angkasa meluluhkan aku menyayangimu

Dari tengkukmu yang  lembut kukecupi dengan takut

Masih ada dalam benak aku menginginkanmu melebihi nafsu

Karena bagiku engkau adalah cinta dan aku rela berkorban lebih banyak

Kita yang menginginkan ini dengan berbagai cara

Kadang kekanakan seperti aku atau dengan dewasa sesuai inginmu

Aku senang sejak kita memulai ini setengah windu berlalu

Dan aku masih tetap merindukanmu dengan cara yang sama

Sama seperti ketika aku menemukanmu diantara mereka

Kitapun memandang segalanya dengan cara yang sama

Lebih sering menghabiskan waktu bersama dan aku suka

Saat kujaga hatimu seperti aku menjagamu selama ini

Disinilah kita akan terus bersama, hingga nanti waktu menepi

Berlari pergi dan meninggalkan kita

(14 Agustus 2009-2012)

 

Hujan Pertama

Aku  tak pernah menginginkan senja membenci  puisiku

Ketika kukisahkan tentang hujan yang bahagia

Kala itu ia tengah bersuka ria dalam sua dengan kekasihnya

Aku bahagia, bahwa kemarau yang kering sudah berakhir

Penghujung bulan ini ketika cinta tak lagi indah

Rumput basahlah yang menjadi saksinya

Bahwa masih ada harap disetiap detiknya

Dan aku memilih kataku sendiri

Mengabarkan ia bahwa jingga akan segera berganti

Setidaknya menjadi lebih ayu dengan tatap mata menatap sendu

Monolog: kunang kecil

“Aku tak sama seperti siapapun yang pernah kau kenal sebelumnya” berujar kunang kepada bintang.
“Kita sama bercahaya, tapi kita tetap berbeda. Aku ingin menggapai cahayamu untuk kusimpan dihatiku. Tapi apa daya, engkau Tuan dan aku hamba. Kupilih diam, memandang lekat, pada cahayamu. Engkau tak tahu, selama ini engkau yang temani, hangatkan hati. Cahayaku masih untuk mengagumimu, cahayamu masih menuntun malamku. Aku masih disini. Dan kadang bukan aku bosan, bukan tak peduli, hanya saja aku takut aku terlalu jauh bermimpi, sementara kita memang tak mungkin menyatu, meski hanya untuk sedikit berbagi. Engkau harus bahagia, engkau harus bahagia, engkau harus bahagia. Dan bahagia itu, tidak dengan kunang kecil tak berarti.”

Keputusan

Siapa diantara kita yang berani melangkah lebih dulu
Sudah kau putuskan untuk lemparkan dadunya?
Tidak sekali kita kehilangan angka
Tapi kesempatan selalu datang lagi
Rupanya sudah terikat janji
Tidak sekali kita kehilangan duka
Tapi bahagia selalu berlalu lagi
Rupanya disana mengesan doa
Sudah kau putuskan untuk selesaikan cerita?
Siapa diantara kita yang berani menuliskan titik lebih dulu
Hidup bukan melulu memikirkan keuntungan bukan?
Hidup tak berada di dekat keabadian bukan?
Kita belum kehilangan kesempatan
Hanya saja bahagia enggan bertahan
Dan bagi kita, mencoba telah benar hilang makna
Dari setiap perkara karut yang diputuskan
Tidak dengan kebijaksanaan